setiap langkah meninggalkan jejak, setiap kesimpulan berawal dari sebuah pertanyaan. adalah nalar yang selalu mencari jawaban dari semua permainan yang Tuhan hadirkan. bagaimana masih bernafas sampai hari ini adalah sebuah ketakutan tentang beribu pertanyaan tentang ego dalam skema diriku yang lain. analogi antara benar salah, baik buruk, surga neraka, maupun hitam putih tanpa menjadi palsu abu abu, semua lebih rancu dalam stigma kedewasaan yang berbeda. berawal dari pikiran yang beranjak lebih logis dari remaja ke dewasa, dewasa ke tua, seolah olah membuka jendela baru dalam tahap perakitan untuk menjadi makhluk yang lebih relevan. selalu tanpa dipaksa berubah, akan memaksa untuk menjadi apa yang diri sendiri ciptakan. lalu dari berbagai gagasan pikiran yang telah diri ini utarakan, kadang ada beberapa bentuk keraguan yang senantiasa menghambat rekonstruksi wajah baru yang sedang bentuk ini lahirkan.
Hitam Di Balik Layar
Tuesday, 24 January 2017
skeptis
Monday, 23 January 2017
Cerita Memoar Masa Muda
banyak
yang bilang, dewasa adalah masa proyeksi dari kehiduan yang sebenarnya. dimana kamu akan mengambil
sebuah jalur dalam perakitan atmosfer kedewasaanmu menuju ke tahap selanjutnya.
apa yang yang telah kamu tanam sebelumnya, apa yang pernah kamu pegang sebelum
ini, kini semua menjadi sistem tunggal dimana kamu adalah apa yang akan kamu
ciptakan. jauh dari opini, pengaruh publik atau bahkan aturan keluarga. sebagai
mestinya siklus semesta yang telah diuraikan dari kita lahir, remaja, dewasa
dan tua, tanpa ada sebuah perbedaan satu sama lain, melekat erat disetiap nyawa
yang dunia hadirkan. dan dari segala perbedaan kita selalu di benturkan pada
wajah baru apa yang akan kita bawa menyebrang untuk sebuah rekontruksi baru
yang akan kita pegang untuk pedoman kelak. seperti mencoba menghindari
kesalahan dengan intropeksi terus menerus, mencari setiap benang hitam dari
seluruh rajutan putih, memotong dan menambalnya dengan banyak putih.. terus
menerus hingga kita sadar masih tersisa banyak waktu hingga kita menjadi tua
tua dan tua. sehingga kelak kita bisa
menyebut diri kita sendiri sebagai seorang veteran yang heroic dan partiotik
untuk dirinya sendiri, dimasa muda.
Monday, 13 July 2015
Ruang Kosong
Datang dan pergi, datang dan bubar, kemudian kosong lagi
Disini hanya sebuah sudut perspektif kosong tanpa seorang pun mau berargumen atau bersanding menikmati alur waktu kehidupan
Banyak pencerita yang bilang dulu banyak sesal yang masih tertinggal sebelum mereka benar benar meninggalkan.
Bukan untuk di sentuh atau di bersih kan, tapi ruangan ini benar benar berantakan dan kosong
Dia hanya terdiam dan menunggu sang waktu hingga ada yang datang, sebelum ruangan ini hilang karena hujan yang berkepanjangan .
Wednesday, 1 July 2015
Cerita Asap Rokok dan Kopi
Begitu penat dan melelahkan hari ini ketika tubuh sudah kehabisan refleksasi senyum dan genggaman hangat dari tangan orang lain. Apa yang digambarkan dunia pada hari ini sungguh benar benar membuat mulut cuma melongo, sesumbar hati cuma berkata ahhh... sudahlah, cukup tauuu. Dan di ruangan kecil ini pencerita tanpa sadar sudah mulai menuliskan hal-hal yang tidak berarti, bukan petuah atau kata-kata bijak juga. Menyadari tak seorangpun mau membaca apa sekedar menengok dia hanya merengut sambil melihat kepulan asap dan kopi yang masih panas. Bagaimana sekarang ini banyak manusia susah membedakan antara penting, perlu dan bodoh. Semua hanya beragument selebar jidatnya tanpa pernah memahami konsep benar salah dan lumrah, atau bodoh. Bayangkan jika para hipster mulai menjadi kiblat trend yang menjadikan segala hal booming baru adalah sebuah keharusan yang penting dan wajib bagi setiap orang dewasa. Mungkin tidak lama lagi dunia akan dipenuhi kepalsuan untuk memamerkan ego semata. Seperti beberapa orang bodoh yang dengan bangganya memamerkan ke “galau” an nya di atas Gunung, mereka dengan dalih mencintai alam dengan Iq rendahnya malah membuang sampah di alam dengan kertas tulisan tulisan basi. Cuma ingin dipuji, dibilang wahh, dan mungkin romantis.haha kinda hypocrite. Dan masih ingat benar saat kamera mahal menjadi kewajiban bagi setiap anak gaul yang ingin dibilang wahh. Dengan bermodal kamera dan jepretan melabeli jidat mereka tanpa sungkan dengan predikat fotografer.hahah sangat berlebihan menurtku. Apa yang membuat mereka bodoh kadang hanya membuat kita tertawa, tetap berada dalam lingkaran ini. Percayalah, kata perlu, penting, dan lumrah itu berbeda. Hal penting dan tidak juga sangat mudah di definisikan. Tak perlu menjadi hipster berlabel wahh untuk menjadi pusat perhatian, dan perhatiaan sendiri masih abstrak, sebuah kepentingan atau cuma pelengkap. Kamu tak bisa mengkatagorikan wahh itu penting, wahh itu kewajiban. Tapi kamu bisa menjadi sesuatu yang wahh dalam koridor mu sendiri, tanpa sungkan kamu mengatakan aku punya wahh versiku sendiri.
Monday, 27 April 2015
Itu tidak nyata, mereka tidak ada dalam bukti nyata, tapi itu barangkali tetap ada dalam goresan jalan hidup, ya mereka selalu ada menemani alur waktu berlalu, hingga aku sadar sekarang sudah 15 tahun dari waktu yang lalu. Bola kecil bola besar , segalanya telah binasa sekarang, hanya menjadi tonggak sejarah untuk mengambil langkah dewasa, sedikit tertawa sebelum ingatan itu benar benar tergantikan dan hilang.
Thursday, 16 April 2015
Thursday, 9 April 2015
Kata Bijak
Selamat
siang, dan selamat menikmati anugrah Tuhan yang Dia hadirkan di hari ini.
Semoga kita selalu menjadi zat ciptaannya yang selalu mengingat dan bersyukur
kepadaNya, walaupun kepala saya agak risau terhadap beberapa (tidak semua) orang siang ini yang mengatas namakan Tuhan
sebagai alat arogansinya. Bagaimana
mungkin kalian mengatas namakan Tuhan untuk sebuah eksitensi pengerat untuk
menarik perhatian orang lain(bahkan lebih sekedar itu). Seperti beberapa orang
yang saya temui di dunia maya beberapa menit yang lalu dengan sombongnya “pamer”
kegiatan keibadahannya yang dia banggakan kepada orang orang. Bukan saya
sebagai seorang sentimen(disini), tapi saya juga satu seperti kalian, hanya
saja dalam ajaran saya sungguh sangat tidak diajarkan seperti itu, dan mungkin
saya yang salah.
Ibadah
itu dialog antara kamu dan Tuhan, sangat privasi dan hanya kamu dan Tuhan yang
mengerti, tak ada yang lebih penting untuk lebih memahami apa yang Tuhan
inginkan daripada hanya sekedar eksitensi semata. Dan yang lebih penting
seberapa besar eksistensimu terhadap Agamamu, kita sesama manusia tidak bisa
menilai dan menyanjungmu karna alasan itu, mengingat kita hanya sesama ciptaanNya
dan hanya Penciptanya lah yang mutlak berhak menghakiminya.
Semua
hanya asumsi saya pribadi si, tidak 100 persen benar, tapi yang jelas saya agak
penat dengan ocehan pamer sebagian orang yang berlindung dibalik nama Tuhan, sungguh
disayangkan mereka mengerat agama hanya untuk Arogansi semata tanpa mengerti
apa arti sesungguhnya.
Dan
jangan lupa untuk tetap berbuat baik kesesama, selalu bersyukur terhadap segala
ragam jenis yang Tuhan hadirkan, berbeda tapi sama.
Subscribe to:
Comments (Atom)